Pagi itu seperti biasa aku melihat seorang anak yang biasa lewat di depan warung ku. Sosok yang putih bermata sipit terlihat seperti keturunan chines. Tapi kali ini dia agak berbeda dari hari biasanya, wajahnya kalut, muram, seperti tak ada semangat dalam hidupnya. Memang benar, akhir-akhir ini ada masalah dikeluarga nya, ayah dan ibunya tak akur.
Winn.. jaga warung bentar yaa ibu ke rumah mba Lina dulu, ucap ibu. Iya buu.. tiba-tiba bocah chines tersebut mendatangi warung ku..
“ ka beli minuman dingin nya ya satu..”
“oh ya sebentar ya”
“terimakasih ka..” ucapnya kalut
Lidah ku kelu ingin ku bertanya padanya apa yang telah di alami dirinya semenjak keluarganya berantakan, rasa simpati ku mulai muncul.
“Ehh tunggu bentar..”
“ iya ada apa ya?”
“ emm bukan nya mau ikut campur sih ya, katanya akhir-akhir ini kamu dan keluarga mu ada masalah ya?” ucapku dengan nada kasihan
Wajah yang muram itu seketika berubah terlihat seperti menahan emosi yang meluap-luap tak tertahankan. Saat itu juga ia menjawab..
”jangan sekali kali kamu ngurusin aku dan keluarga ku ya, tau apa kamu?”
“Maaf maaf ya bukan nya sok ngurusin tapi aku kasian ngeliat kamu ..” sontak aku merasa bersalah akan hal itu, ia berlalu berlari sambil memegang erat botol minuman yang telah dibelinya di warungku.
“Vino..!! ngapain kamu ikut-ikutan, pergi sana”
“Iya, ayah .. ayah kenapa sih sama bunda?? Kesian bunda yah”
seketika anak itu berlari sambil menangis, memang aku mulai tak nyaman padanya karena barusan aku membuatnya sedih. Aku hampiri anak lelaki itu dan dia menceritakan semuanya apa yang terjadi dengan keluarga nya. Aku sempat menitikkan air mata di hadapan nya, keluarganya hancur. Dia lah korban nya.
“besok ayah dan bunda akan bercerai ka”
“sabar ya Vin.. jangan dipikirin yaa”
Dia berlari dari ku, aku mengejarnya dia mencoba bunuh diri. Aku berteriak sekencang-kencangnya, tiba-tiba muncul ayah dan bunda anak itu dibelakang ku. Mereka berdua mencoba menahan Vino.. tapi ah! Tak mungkin, anak itu sudah terlanjur sakit hatinya. Bagaimana bisa bocah berumur 10 tahun itu dengan psikologi nya yang hancur karena keluarga yang tak menghiraukan nya membuatnya tak bisa merasakan kasih sayang.
Anak itu melompat, ya melompat dari gedung apartemen ayahnya setinggi 500 meter. Aku pun merasa sangat bersalah karena tak bisa menahan nya~ sontak kedua orang tua itu menangis berlutut. Tapi apa lah daya, tidak ada yang bisa diharapkan lagi, bocah itu mati dengan keadaan kepala pecah.
Keesokan harinya, sekumpulan ibu-ibu bergerombol di depan warungku. Sudah pasti mereka membicarakan bocah chines yang mati itu
“wina ada apa diluar kok rame banget?” tanya ibu padaku
“gak tau pasti bu, tapi kayaknya mereka membicarakan anak chines yang mati itu bu”
“anak chines? Yang mana win ibu gak pernah dengar”
“yang beli minuman kemarin bu”
“ibu gak tau win, ah yasudah ibu hampiri mereka saja” ibuku berlalu menghampiri sekumpulan ibu-ibu itu.
Begitulah, sejak hari itu kematian bocah chines yang mati bunuh diri karena depresi itu menjadi buah bibir kalangan ibu-ibu. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil di dalam nya
End
Baru bikin gua nih cerpen ke-3 ha ha
Winn.. jaga warung bentar yaa ibu ke rumah mba Lina dulu, ucap ibu. Iya buu.. tiba-tiba bocah chines tersebut mendatangi warung ku..
“ ka beli minuman dingin nya ya satu..”
“oh ya sebentar ya”
“terimakasih ka..” ucapnya kalut
Lidah ku kelu ingin ku bertanya padanya apa yang telah di alami dirinya semenjak keluarganya berantakan, rasa simpati ku mulai muncul.
“Ehh tunggu bentar..”
“ iya ada apa ya?”
“ emm bukan nya mau ikut campur sih ya, katanya akhir-akhir ini kamu dan keluarga mu ada masalah ya?” ucapku dengan nada kasihan
Wajah yang muram itu seketika berubah terlihat seperti menahan emosi yang meluap-luap tak tertahankan. Saat itu juga ia menjawab..
”jangan sekali kali kamu ngurusin aku dan keluarga ku ya, tau apa kamu?”
“Maaf maaf ya bukan nya sok ngurusin tapi aku kasian ngeliat kamu ..” sontak aku merasa bersalah akan hal itu, ia berlalu berlari sambil memegang erat botol minuman yang telah dibelinya di warungku.
“Vino..!! ngapain kamu ikut-ikutan, pergi sana”
“Iya, ayah .. ayah kenapa sih sama bunda?? Kesian bunda yah”
seketika anak itu berlari sambil menangis, memang aku mulai tak nyaman padanya karena barusan aku membuatnya sedih. Aku hampiri anak lelaki itu dan dia menceritakan semuanya apa yang terjadi dengan keluarga nya. Aku sempat menitikkan air mata di hadapan nya, keluarganya hancur. Dia lah korban nya.
“besok ayah dan bunda akan bercerai ka”
“sabar ya Vin.. jangan dipikirin yaa”
Dia berlari dari ku, aku mengejarnya dia mencoba bunuh diri. Aku berteriak sekencang-kencangnya, tiba-tiba muncul ayah dan bunda anak itu dibelakang ku. Mereka berdua mencoba menahan Vino.. tapi ah! Tak mungkin, anak itu sudah terlanjur sakit hatinya. Bagaimana bisa bocah berumur 10 tahun itu dengan psikologi nya yang hancur karena keluarga yang tak menghiraukan nya membuatnya tak bisa merasakan kasih sayang.
Anak itu melompat, ya melompat dari gedung apartemen ayahnya setinggi 500 meter. Aku pun merasa sangat bersalah karena tak bisa menahan nya~ sontak kedua orang tua itu menangis berlutut. Tapi apa lah daya, tidak ada yang bisa diharapkan lagi, bocah itu mati dengan keadaan kepala pecah.
Keesokan harinya, sekumpulan ibu-ibu bergerombol di depan warungku. Sudah pasti mereka membicarakan bocah chines yang mati itu
“wina ada apa diluar kok rame banget?” tanya ibu padaku
“gak tau pasti bu, tapi kayaknya mereka membicarakan anak chines yang mati itu bu”
“anak chines? Yang mana win ibu gak pernah dengar”
“yang beli minuman kemarin bu”
“ibu gak tau win, ah yasudah ibu hampiri mereka saja” ibuku berlalu menghampiri sekumpulan ibu-ibu itu.
Begitulah, sejak hari itu kematian bocah chines yang mati bunuh diri karena depresi itu menjadi buah bibir kalangan ibu-ibu. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil di dalam nya
End
Baru bikin gua nih cerpen ke-3 ha ha
good :')
BalasHapusrina chan saking menghayati kisahnya yaa :p
BalasHapus